Tanda- tanda Hati yang Mati

15 Jan 2020
source: islampos.com

Hati yang mati ialah, hati yang tidak bisa ‘disentuh’ dengan apapun, dan tidak peduli dengan apa yang dialami orang lain. Tidak merasakan sentuhan iman, bahkan tidak peduli apakah ia berdosa atau tidak.

Sobat, sebuah hati adalah organ yang penting dalam tubuh manusia. Hati menghubungan antara jiwa dan raga manusia. Hati mempunyai peran yang sangat penting dalam tubuh, oleh kerena itu, jangan sampai kita kotori dan cemari oleh perbuatan-perbuatan yang dapat menjadikan hati kita ‘mati’. Apakah tanda-tanda hati yang mati itu?

  1. Tidak gelisah saat meninggalkan ibadah

orang yang hatinya mati, tidak akan peduli dan gelisah dengan ibadah mereka. Ia akan tetap santai, dan melakukan kegiatannya tanpa merasa ada beban yang mengganggunya.

  1. Berani meninggalkan shalat

Sobat, shalat adalah tiang agama. Shalat 5 waktu merupakan ibadah yang wajib hukumnya dan haram untuk ditinggalkan. Jika seseorang merasa enteng tidak mengerjakan shalat, maka hati orang tersebut telah mati. Mengapa demikian? Karena ia tidak takut perbuatannya akan dilaknat oleh Allah. Ia merasa seperti ‘biasa saja’ ketika meninggalkannya, dan tidak merasa berdosa.

  1. Tidak Tersentuh bahkan menjauhi ayat-ayat al Qur’an

Ketika orang beriman dibacakan al Qur’an, maka seluruh tubuhnya akan merinding, kemudian akan berusaha menjadi lebih baik lagi. Tapi hal ini tidak berlaku pada orang yang hatinya mati, lho Sobat! Orang yang hatinya mati tidak akan tersentuh sama sekali dan tetap lalai dalam kehidupannya. Ia akan tetap lalai dan tidak mengambil pelajaran yang terkandung dalam al Qur’an, padahal al Qur’an adalah sebuah pedoman untuk kehidupan.

  1. Membenci nasihat baik para ulama

Orang yang hatinya mati, tidak akan mendengar orang lain. Ia tetap berjalan ke arah manapun yang dia suka. Tidak pernah memperdulikan saran orang lain yang mengajaknya dalam kebaikan. Bahkan, mereka cenderung membenci ulama atau orang-orang yang berusaha mengarahkannya pada kebaikan.

  1. Tidak memiliki rasa syukur

Jika kita mendapat rezeki atau berita yang membahagiakan, pasti kita merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah SWT, kan? KIta pasti akan berterima kasih atas rahmat yang Allah berikan ada kita. Tapi, hal ini tidak berlaku untuk orang yang hatinya mati. Orang yang hatinya mati, tidak akan pernah puas dengan segala nikmat yang Allah berikan. Ia tidak akan pernah merasa cukup, dan selalu mengeluh serta meminta lebih.

  1. Tidak berbakti kepada orang tua (bagi seorang suami yang telah berkeluarga)

Seorang yang hatinya mati, akan hanya memperdulikan kehidupannya sendiri. Ia cenderung menelantarkan orang tuanya, memusuhi, bahkan tidak pernah memberikan nafkah kepada orang tuanya. Hartanya dihabiskan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tidak ada sedikitpun harta yang digunakan di jalan Allah. Ia bahkan tidak akan mengasihi orang tuanya meski di hari tua, dan akan cenderung menaruh dendam dan permusuhan.

  1. Tidak takut mati

Walaupun kita sangat merinding memikirkan nasib kita di akhirat kelak orang yang hatinya mati tidak akan peduli dengan hal semacam itu. Orang yang hatinya mati tidak akan takut dengan peringatan-peringatan terjadinya hari akhir dan akan tidak memperdulikan peringatan-peringatan tersebut.

Allah berfirman dalam QS. As-Sajdah / 32:12 yaitu:

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Artinya: “Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika individu-individu berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikan lah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal sholeh. Sesungguhnya kami adalah individu-individu yakin.” (As-Sajdah/32:12).

Na’udzubillah, jangan sampai kita menjadi orang yang demikian, karena sesungguhnya yang demikian itu tidak akan menerima rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala. Sobat, mari kita dekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kita tidak akan pernah tahu akhir hidup seseorang seperti apa, karena hanya Allah yang Maha Mengetahui, tapi kita bisa berdoa dan memohon kepada Allah untuk selalu menjadi orang yang beriman dan tidak melalaikan urusan agama.