Cara Menghindari Ghibah dalam Percakapan Harian

30 Oct 2025

Ghibah atau mengumpat merupakan salah satu perilaku lisan yang dilarang dalam Islam. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang ia tidak suka jika ia mendengarnya—meskipun apa yang dibicarakan itu benar. Di era komunikasi yang serba cepat seperti sekarang, ghibah tidak hanya terjadi saat berkumpul secara langsung, tetapi juga melalui media sosial, pesan singkat, hingga komentar di dunia maya.

Sering kali, tanpa disadari, obrolan ringan berubah menjadi pembicaraan tentang keburukan orang lain. Karena itu, penting bagi seorang Muslim untuk menjaga diri dan lidahnya dari perbuatan ini. Artikel ini akan membahas bagaimana cara menghindari ghibah dalam percakapan harian.

1. Memahami Bahaya dan Dosa Ghibah

Menghindari ghibah dimulai dari memahami bahayanya. Ghibah bukan hanya dosa besar yang merusak amal kebaikan, tetapi juga mencemari hati, merusak persaudaraan, dan menimbulkan permusuhan.

Beberapa dampak buruk ghibah:

  • Menghilangkan keberkahan dalam hidup.

  • Merusak hubungan persahabatan dan silaturahmi.

  • Menumbuhkan sifat iri, dengki, dan prasangka buruk.

  • Menodai hati sehingga sulit menerima nasihat dan kebaikan.

Kesadaran terhadap besarnya dosa ghibah akan membuat seorang Muslim lebih berhati-hati saat berbicara.

2. Menjaga Niat dan Tujuan Percakapan

Banyak obrolan bergeser menjadi ghibah karena tidak memiliki tujuan jelas, sekadar mengisi waktu, atau ingin terlihat lebih unggul dibanding orang lain. Karena itu, setiap percakapan sebaiknya memiliki niat baik.

Tips menjaga niat dalam percakapan:

  • Mulai dengan niat memberi manfaat, bukan membuka aib orang lain.

  • Hindari pembicaraan yang memicu penilaian negatif terhadap seseorang.

  • Latih diri untuk fokus pada topik yang mendidik, menginspirasi, atau memperbaiki diri.

Jika sejak awal niat dijaga, maka lisan pun akan lebih terarah.

3. Mengalihkan Topik saat Ghibah Mulai Muncul

Ketika berada dalam sebuah percakapan yang mulai mengarah pada membicarakan keburukan orang lain, seorang Muslim dianjurkan untuk segera mengalihkan pembicaraan. Ini adalah bentuk menjaga diri sekaligus menyelamatkan orang lain dari dosa yang sama.

Cara mengalihkan obrolan dengan halus:

  • Mengganti topik dengan hal positif atau netral.

  • Mengangkat topik inspiratif seperti pengalaman, prestasi, atau rencana kebaikan.

  • Mengajak berbicara tentang hal-hal bermanfaat seperti ilmu, keluarga, hobi, atau aktivitas sosial.

Mengalihkan topik tidak harus dilakukan secara kaku; lakukan dengan cerdas dan santun.

4. Menghindari Lingkungan yang Suka Mengghibah

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan seseorang. Jika sebuah circle pertemanan terbiasa menjadikan ghibah sebagai “bahan obrolan”, maka kita pun akan mudah terikut.

Langkah menjaga diri dari lingkungan pemicu ghibah:

  • Batasi interaksi dengan orang-orang yang suka membuka aib orang lain.

  • Pilih teman yang menjaga lisan dan perkataan.

  • Jika sulit menjauh, jadilah pihak yang membawa perubahan dalam percakapan.

Lingkungan yang baik akan mengajak pada kebaikan, bukan menjerumuskan pada dosa.

5. Ingat bahwa Setiap Ucapan Dicatat oleh Malaikat

Kesadaran bahwa setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat adalah tameng yang kuat untuk menahan diri dari ghibah. Allah menegaskan bahwa tidak satu kata pun terucap kecuali ada malaikat yang mencatatnya.

Dengan menyadari hal itu, seseorang akan lebih selektif dalam berbicara.

Renungan sederhana sebelum berbicara:

  • Apakah kata ini bermanfaat?

  • Apakah jika orang yang dibicarakan hadir, aku tetap akan mengatakannya?

  • Apakah Allah ridha dengan perkataan ini?

Pertanyaan ini dapat membantu memfilter ucapan sebelum keluar dari lisan.

6. Perbanyak Bicara Kebaikan atau Diam

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam. Diam bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kematangan dan kecerdasan spiritual.

Amalan ini dapat membiasakan diri terhindar dari ghibah:

  • Perbanyak dzikir, istighfar, dan doa di sela obrolan kosong.

  • Jadikan senyum dan mendengarkan sebagai bentuk kontribusi positif dalam pertemuan.

  • Jika tidak ada manfaat untuk diucapkan, memilih diam adalah pilihan terhormat.

Diam lebih aman daripada berbicara yang membawa dosa.

7. Jika Terlanjur Berghibah, Segera Bertaubat

Manusia tempatnya salah dan lupa. Jika terlanjur terjatuh dalam ghibah, jangan meremehkannya, tetapi segeralah bertaubat.

Langkah mengobati diri setelah terlanjur ghibah:

  • Memohon ampun kepada Allah dengan tulus.

  • Menyebutkan kebaikan orang yang telah dighibahi sebagai penebus.

  • Jika memungkinkan, minta maaf kepada yang bersangkutan tanpa harus memperburuk keadaan.

Taubat yang cepat akan mencegah hati semakin keras dan terbiasa dalam dosa.

Menghindari ghibah dalam percakapan harian adalah bentuk menjaga kehormatan diri, keluarga, dan saudara seiman. Lidah adalah amanah, dan setiap kata dapat menjadi amal atau dosa. Dengan menjaga niat, mengalihkan topik, selektif memilih lingkungan, serta memperbanyak kata-kata baik, seorang Muslim dapat membangun lisan yang bersih dan diberkahi.

 

Mulailah dari diri sendiri dengan kebiasaan sederhana: berkata baik atau pilih diam. Sebab, kemuliaan seorang Muslim bukan dari banyaknya bicara, tetapi dari lisan yang membawa manfaat dan menjaga kehormatan sesama.